Belajar menyunting bersama Much. Khoiri


  1. Resume belajar menulis Gel.2

Bersama Om Jay
Pertemuan 17
Kamis, 27 Februari 2020
Narasumber : Bapak Much.Khoiri
Moderator    : Bapak Wijayah
                          Kusumah
Oleh               : Bergita Kapa

Pada pertemuan ke-17 ini, saya mendapat pencerahan dari Bapak Much Khoiri.
Bapak Much Khoiri sebagai
penggerak literasi,dosen menulis kreatif,editor dan penulis 43 buku dari Universitas Negeri Surabaya
(UNESA).
Konsep menyunting (Editing), mengapa perlu menyunting, apa yang disunting, dan bagaimana melakukannya,baik untuk karya sendiri maupun karya orang lain.
Untuk memperdalam materi menyunting kami diberi kesempatan untuk membaca artikel"Menyunting tulisan".
Serial ' Teori ' menulis (30).

Menyunting tulisan 
Oleh Much.Khoiri
Jika kita sudah menbuat draf pertama tulisan kita, tugas menulis kita belumlah selesai. Ada satu langkah penting lagi dalam proses menulis yakni menyunting (editing)
draf atau naskah tulisan kita.
Apa yang perlu kita lakukan dalam menyunting naskah?
Kita harus baca ulang draf kita, mungkin tidak hanya cukup sekali, bisa dua atau tiga kali. Dalam hal ini kita harus berdiri sebagai pembawa, dan karena itu harus objektif memberikan penilaian. Intinya proses membaca naskah sendiri ini untuk menemukan kekurangan atau kelebihan dan draf kita baik menyangkut ide, pengorganisasian, maupun penggunaan bahasa.

Secara umum kita bisa menambahkan variasi penekanan, koherensi, transisi, dan detail (rincian). Kita juga bisa mengurangi kalimat bertele-tele ( mubasir) irelefansi, dan inkonsistensi.
Bagaimana prakteknya?
Terkait pentingnya ide, jika kita kekurangan keluasan dan kedalaman, kita harus menyisipkan atau menambahkan ide ke dalamnya. Misalanya, kita belum memasukan contoh, kasus, kutipan, anekdot, dan sebagainya; karena itu kita harus segera melunasi semua kekurangan itu.
Sementara itu, jika naskah kita kelebihan ide misalnya terlalu rinci, atau terlalu banyak contoh kasus, kita harus segera menyeleksi mana yang paling relefan dengan topik bahasan. Selain itu, mungkin contoh-contoh yang kita ajukan tidak relefan, dan karena itulah, mereka harus mengganti contoh yang baru dan relefan.

Pengorganisasian ide tidak kalah pentingnya. Kita cermati bagian-bagian tulisan, apakah sudah ada pembuka yang memikat, penjelasan, atau uraian yang proporsional, dan penutup yang mengesankan atau mengejutkan? Mungkin ketiga bagian ini tak berlaku kaku untuk puisi.

Namun,hakikatnya sebagaimana siklus hidup, tulisan seharusnya megandung ketiga bagian itu.
Selain itu runtutlah ide-ide yang kita tuangkan dalam naskah kita? Apakah klasifikasi ide telah tercermin dalam tulisan? Apakah sudah ada kepaduan dari keseluruhan ide? Apakah yang masih perlu ditambahkan atau di kurangi? Pertanyaan semacam ini perlu dikemukakan saat mencermati pengorganisasian tulisan.
Menyunting juga perlu membenahi penggunaan bahasa yang kita gunakan di dalam draf kita. Pertama hubungan subjek dan predikat, kemudian pemilihan kata (diksi) dan penggunaan konteks yang tepat.
Tentu saja, kita harus selalu berusaha untuk menggunakan kalimat-kalimat efektif, bukan hanya untuk melancarkan penyampaian maksud, melaikan juga untuk menunjukkan kecintaan kita berbahasa Indonesia.

Lebih lanjut proses penyuntingan juga diarahkan untuk membenahi ejaan, tanda baca,dan mekanika 
( tata tulis) tulisan. Nama orang, instansi,organisasi,kota dan sebagainya harus dimulai dengan huruf kapital. Ada aturan-aturan main yang harus ditaati bersama, agar tertib berbahasa bisa diwujudkan.
Singkatnya, refisi dan menyunting dimaksudkan untuk memoles, mengasah, melengkapi, menyempurnakan naskah, baik isi
(Content) maupun struktur pengembangan. Tak terlewatkan adalah membenahi mekanika ( tata tulis) tata bahasa, diksi, ejaan, hingga akurasi karya pun akan tampak meyakinkan.

Dengan demikian, menyunting itu bukan pekerjaan mudah. Kita perlu membekali diri dengan pengetahuan kebahasaan intra 
lingustik dan ektra lingustik, agar hasil suntingan kita memenuhi standar penyuntingan. Yang terpenting lagi melakukan penyuntingan.
Setelah mencoret-coret, memotong, menambah, atau melengkapi draf kita, maka tibalah saatnya kita menyempurnakan draf itu.
Penyempurnaan draf dilakukan bisa ditambah dengan membaca ulang guna memperoleh draf final yang siap diserahkan atau dikirim ke pembaca lain.

Dalam mengerjakan penyuntingan,  boleh jadi bahwa kita akan mendapati perbedaan-perbedaan antara draf awal dan draf final entah isi maupun organisasi dan bahasanya. Jangan panik, itu wajar maksudnya, saat kita menyunting, kita bisa berpikir lebih baik dibanding saat menulis draf awal dan karena itu kita berpeluang membenahinya.

Saya pernah membaca sebuah buku bagus berjudul In transtions ( 1990 )
Yang memuat draf-draf awal penulis dunia. Draf-draf itu masih penuh coretan, koreksi, dan sisipan baik bentuk ( struktur generik) maupun isi ( ide, gagasan ).
Ada proses penyuntingan disana.ketika saya bandingkan draf yang ada di dalam buku intranstions dengan draf di buku lain( buku refrensi megajar ) terdapat perbedaan yang siknifikan. Para penulis telah merefisi
( menyunting) bentuk dan isi karya mereka. Artinya para penulis kelas dunia pun juga menempuh pembelajaran untuk memperbaiki karya mereka.

 Jadi, begitulah bagi penulis, menyunting itu bagian yang tak terpisahkan dengan pembuatan draf( drafting ). Jika ada penulis enggan melakukannya, itu semata akibat kepercayaan diri yang terlalu besar akan kelayakan karya yang telah di hasilkannya. Padahal, soal kualitas tulisan bukanlah kita sendiri yang menilainya melainkan masyarakat pembaca.

Mengapa perlu menyunting? Karena draf naskah tulisan memang belum di anggap selesai ataupun final, masih ada kemungkinan kekurangan sana-sini. Kita harus baca ulang draf kita mungkin tidak hanya cukup sekali, bisa dua atau tiga kali. Dalam hal ini kita harus berdiri sebagai pembaca, dan karena itu harus objektif memberikan penilaian. Yang perlu diedit atau disunting secara umum kita bisa menambahkan variasi, penekanan, koherensi, transisi, dan detail( rincian ).
Kita juga bisa mengurangi kalimat bertele-tele( mubasir) irelefansi,dan inkonsistensi. Dengan kata lain penyuntingan berfokus pada tiga unsur, yakni bobot ide, pengorganisasian ide kedalam tulisan. Penulis pemula yang tidak memiliki kemampuan dalam melakukan editing ada solusinya ke depan penulis juga harus belajar menjadi editor, seiring perjalanan waktu. 

Agar tulisan itu padat dan berisi hal yang penting yakni meguasai materi yang hendak ditulis, latihan berulang-ulang, sehingga tulisan kita akan makin lancar dan kriuk.
Cara mengedit yang baik antara lain baca dulu seluruh teks untuk memahami konten secara umum.
Ini review konten setelah itu menandai mana yang perlu ditata dan direvisi. Kemudian dilakukan editing mulai dari awal hingga akhir. Setelah itu, perlu profreading
( mengecek tata tulis) mungkin terlewatkan, juga tanda baca, ejaan, dan sebagainya.

Mengedit naskah sesuai kaidah genre tulisan yang ada. Menulis esai ada kaidahnya, menulis cerpen ada kaidahnya, juga menulis puisi.

Sebagai penulis setidaknya kita memahami bagaimana menulis kalimat sederhana. Setelah selesai menulis dicek, apakah kalimat-kalimat yang ada sudah ada subjek dan predikatnya inu tantangan. Jika belum bisa melakukan sendiri, atau baiknya minta tolong editor untuk menunjukkan perbedaan antara teks asli dan teks editan. Cari editor yang mau memberikan masukan ke tulisan, dan menunjukkan kelemahan dan kelebihan tulisan.

Simpulan dari pemaparan materi  tersebut 
Menyunting atau editing perlu dilakukan terhadap naskah atau tulisan, sebelum disajikan kepada pembaca. Menyunting tentu bisa dilakukan pada naskah sendiri maupun naskah orang lain. Karena itu, penulis yang baik perlu berlatih menjadi editor, untuk karya sendiri dan juga karya orang lain.

Saat menyunting, kita fokua pada konten, pengorganisasian, dan penggunaan bahasa. Namun konten tidak boleh banyak diubah. Editor lebih berhak membantu pengorganisasian ide dan pengunaan bahasa. Tentu editor harus tahu benar substansi konten dan struktur tulisan yang seharusnya. Tentu saja, kemampuan ini semuanya bisa dilatih, baik dengan bimbingan mentor maupun dengan oto didak.
Yang jelas editinglah yang membuat tulisan siap disajikan kepada pembaca. Jika editing berhasil, pesan penulis lebih mudah sampai kepada pembaca.
  1. Semoga kita enteng hati untuk belajar menjadi editor sekurangnya untuk naskah diri sendiri.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merajut tulisan di blog dan internet menjadi buku yang menarik

Dengan Menulis Aku Berpetualang