Membuat Best Practice
Resume belajar menulis Gel.2
Bersama Om Jay
Pertemuan 16
Senin, 24 Februari 2020
Narasumber : Bapak Asep
Suparman,M.Pd
Moderator : Bapak Wijaya Kusumah
Oleh : Begita Kapa
Pada pertemuan yang ke-16 ini dengan narasumber Bapak Asep Suparman, sebagai kepala sekolah SMKN 3 Rajang Lebong Provinsi Bengkulu. Beliau seorang kepala sekolah berprestasi juga penulis buku yang menang lomba pada HUT PGRI tahun 2019.
Menurut Bapak Asep Suparman mengatakan bahwa menulis pekerjaan yang mengasikan, walaupun diterpa kesibukan kita bisa menulis. Minimal menuliskan apa yang kita kerjakan.
Awal mula Beliau terinspirasi menulis karena disetiap tahun ada lomba yang diadakan oleh Dirjen GTK Kemendikbud. Gerakan literasi bagi guru sangat perlu di era digital ini. Menulis mengenai pristiwa yang terjadi atau pristiwa yang dialami.
Memulai pembiasaan menulis
di sekolah, itu Beliau mengawalinya dengan cara guru Bahasa Indonesia dan pustakawan mengadakan pelatihan singkat, tentang menulis lalu kumpulkan karyanya dijadikan buku berISBN. Contohnya buku antologi puisi siswa, buku antologi cerpen,dan sebagainya.
Menulis itu tidak sulit, apalagi yang ditulis adalah apa yang sudah dialami atau dilakukan.
Beliau selalu mengikuti lomba yang diadakan Kemendikbud, seperti lomba guru berprestasi,lomba menulis Best Practice.
Beliau juga sebagai finalis guru SMK berprestasi Tingkat Nasional 2012, juara 2 lomba menulis Best Practice kepalas sekolah Tingkat Nasional tahun 2018, juara 5 besar pemilihan kepala sekolah SMK berprestasi Tingkat Nasional 2018, juara 3 menulis buku non fiksi Tingkat Nasional 2019 itulah prestasi yang diraih oleh Bapak Asep Suparman.
Membuat karya Best Practice :
1. Kita cari dulu apa masalah yang
akan kita angkat.
2. Lakukan inovasi untuk
memecahkan masalah tersebut
dan terus lakukan,
tentunya dengan
didokumentasikan apa yang
dilakukan.
Jika dalam tempo waktu tertentu kita sudah mendapatkan hasil yang mengembirakan maka kita bisa melanjut ke tahap ke-3 yaitu menyusun tulisan dengan sistematika sesuai ketentuan Best Practice.
Supaya menarik kita harus memberikan judul yang seksi. Dari Best Practice bisa dikembangkan menjadi sebuah buku.
Contoh manajemen berbasis prosi mengubah pasir menjadi mutiara latar belakang yang ditulis dari setiap persoalan yang ada, di keseharian kita dalam bertugas.
Pasti ada problem. Entah terkait sarpras atau lainnya.
Guru yang kreatif ketika dihadapkan dengan persoalan keterbatasan maka tergeral jadi inovatif dan solutif. Beliau sendiri pernah mengalami sekolah dengan lahan yang sempit, input siswa guadran 4 dan animo masyarakat rendah dalam menyekolahkan anaknya ke sekolah yang Beliau pimpin. Hal ini saat lima tahun yang lalu. Tapi sekarang Alhamdulillah sudah banyak siswa, dan siswa-siswa yang berprestasi, hingga animo masyarakat makin tinggi untuk menyekolahkan ke sekolah kami. Itulah Beliau membuat judul buku mengubah pasir menjadi mutiara. Maksud kata pasir input siswa yang kurang mampu di bidang akademik, ekonomi.
Sedangkan mutiara hasil dari didikan atau tamatan yang bermutu dan membanggakan.
Menulis Best Practice ada kecendrungan lebih mudah atau lebih sederhana. Sistematikanya lebih ringan. Judul harus ada keterkaitan dengan isi. Setelah menulis judul harus ada observasi-observasi terhadap sekolah tersebut. Menurut Beliau menulis Best Practice lebih cepat daripada menulis buku.
Kesimpulan dari diskusi pada pertemuan ini:
1. Setiap kita bisa menulis,
khusunya menulis Best Practice
itu semua orang pasti bisa.
2. Best Practice itu pengalaman
atau praktek baik yang kita
lakukan secara terus-menerus
dalam upaya problem solving
dari apa yang menjadi kendala
di dalam kita melaksanakan
tugas kita di sekolah.
3. Yang paling urgen dari Best
Practice itu,dilihat dari seberapa
besar dampak positif yang
terjadi.
4. Harus ada perbedaan keadaan
sebelum dan sesudah dilakukan
inovasi praktik baik.
5. Dalam menulis judul harus
menarik namun tentunya
isi harus nyambung.
Bersama Om Jay
Pertemuan 16
Senin, 24 Februari 2020
Narasumber : Bapak Asep
Suparman,M.Pd
Moderator : Bapak Wijaya Kusumah
Oleh : Begita Kapa
Pada pertemuan yang ke-16 ini dengan narasumber Bapak Asep Suparman, sebagai kepala sekolah SMKN 3 Rajang Lebong Provinsi Bengkulu. Beliau seorang kepala sekolah berprestasi juga penulis buku yang menang lomba pada HUT PGRI tahun 2019.
Menurut Bapak Asep Suparman mengatakan bahwa menulis pekerjaan yang mengasikan, walaupun diterpa kesibukan kita bisa menulis. Minimal menuliskan apa yang kita kerjakan.
Awal mula Beliau terinspirasi menulis karena disetiap tahun ada lomba yang diadakan oleh Dirjen GTK Kemendikbud. Gerakan literasi bagi guru sangat perlu di era digital ini. Menulis mengenai pristiwa yang terjadi atau pristiwa yang dialami.
Memulai pembiasaan menulis
di sekolah, itu Beliau mengawalinya dengan cara guru Bahasa Indonesia dan pustakawan mengadakan pelatihan singkat, tentang menulis lalu kumpulkan karyanya dijadikan buku berISBN. Contohnya buku antologi puisi siswa, buku antologi cerpen,dan sebagainya.
Menulis itu tidak sulit, apalagi yang ditulis adalah apa yang sudah dialami atau dilakukan.
Beliau selalu mengikuti lomba yang diadakan Kemendikbud, seperti lomba guru berprestasi,lomba menulis Best Practice.
Beliau juga sebagai finalis guru SMK berprestasi Tingkat Nasional 2012, juara 2 lomba menulis Best Practice kepalas sekolah Tingkat Nasional tahun 2018, juara 5 besar pemilihan kepala sekolah SMK berprestasi Tingkat Nasional 2018, juara 3 menulis buku non fiksi Tingkat Nasional 2019 itulah prestasi yang diraih oleh Bapak Asep Suparman.
Membuat karya Best Practice :
1. Kita cari dulu apa masalah yang
akan kita angkat.
2. Lakukan inovasi untuk
memecahkan masalah tersebut
dan terus lakukan,
tentunya dengan
didokumentasikan apa yang
dilakukan.
Jika dalam tempo waktu tertentu kita sudah mendapatkan hasil yang mengembirakan maka kita bisa melanjut ke tahap ke-3 yaitu menyusun tulisan dengan sistematika sesuai ketentuan Best Practice.
Supaya menarik kita harus memberikan judul yang seksi. Dari Best Practice bisa dikembangkan menjadi sebuah buku.
Contoh manajemen berbasis prosi mengubah pasir menjadi mutiara latar belakang yang ditulis dari setiap persoalan yang ada, di keseharian kita dalam bertugas.
Pasti ada problem. Entah terkait sarpras atau lainnya.
Guru yang kreatif ketika dihadapkan dengan persoalan keterbatasan maka tergeral jadi inovatif dan solutif. Beliau sendiri pernah mengalami sekolah dengan lahan yang sempit, input siswa guadran 4 dan animo masyarakat rendah dalam menyekolahkan anaknya ke sekolah yang Beliau pimpin. Hal ini saat lima tahun yang lalu. Tapi sekarang Alhamdulillah sudah banyak siswa, dan siswa-siswa yang berprestasi, hingga animo masyarakat makin tinggi untuk menyekolahkan ke sekolah kami. Itulah Beliau membuat judul buku mengubah pasir menjadi mutiara. Maksud kata pasir input siswa yang kurang mampu di bidang akademik, ekonomi.
Sedangkan mutiara hasil dari didikan atau tamatan yang bermutu dan membanggakan.
Menulis Best Practice ada kecendrungan lebih mudah atau lebih sederhana. Sistematikanya lebih ringan. Judul harus ada keterkaitan dengan isi. Setelah menulis judul harus ada observasi-observasi terhadap sekolah tersebut. Menurut Beliau menulis Best Practice lebih cepat daripada menulis buku.
Kesimpulan dari diskusi pada pertemuan ini:
1. Setiap kita bisa menulis,
khusunya menulis Best Practice
itu semua orang pasti bisa.
2. Best Practice itu pengalaman
atau praktek baik yang kita
lakukan secara terus-menerus
dalam upaya problem solving
dari apa yang menjadi kendala
di dalam kita melaksanakan
tugas kita di sekolah.
3. Yang paling urgen dari Best
Practice itu,dilihat dari seberapa
besar dampak positif yang
terjadi.
4. Harus ada perbedaan keadaan
sebelum dan sesudah dilakukan
inovasi praktik baik.
5. Dalam menulis judul harus
menarik namun tentunya
isi harus nyambung.
Keren resumenya
BalasHapusTerimakasih om Jay
BalasHapus