Memasarkan Buku
Resume belajar menulis Gel.2
Bersama Om Jay
Pertemuan 23
Selasa, 10 Maret 2020
Narasumber : Ibu Betti Risnalenni
Moderator : Bapak Wijaya
Kusumah
Ibu Betti sebagai penulis buku membagikan pengalamannya. Beliau menulis buku karena ingin buku itu terjangkau oleh banyak anak. Beliau membuat buku karena Beliau mengajar menggunakan buku itu. Buku pertama yang ditulis yakni buku artimatika. Buku ini dibuat dari buku A,B,dan C untuk TK. Sedangkan untuk SD dimulai buku 1,2,3 sampai dengan 27. Jadi ada tiga tingkatan buku. Ukuran bukunya sedang, tidak tebal juga tidak tipis. Jadi harganya bisa bersahabat.
Untuk menjual buku ini, Beliau membuat pelatihan bagi guru. Pelatihannya bisa gratis bisa juga berbayar tergantung kebutuhan tapi bukunya tetap berbayar. Apabila gurunya sudah dilatih dan bisa maka si guru pun akan membimbing muridnya dengan menggunakan buku yang sama. Otomatis muridnya juga membeli buku tersebut. Anak-anak mengisi buku tersebut sama seperti LKS, dan tentu buku itu tidak terpakai dua kali karena sudah diisi atau dicoret-coret.
Dari hasil diskusi dapat disimpulkan:
1. Beliau menyusun atau membuat
buku aritmatika,jarimatika,
dan aritmatika terapan.
2. Membuat buku,memasarkan
buku tidak sulit,sebelum
membuat buku Beliau sendiri
sudah melihat pasarnya.
3. Karya guru dalam bentuk modul
atau sejenis LKPD seperti LKS
boleh dijual atau dipasarkan,
karena menurut penerbit buku
itulah yang mereka cari. Jadi
membuat buku yang diperlukan
oleh siswa.
Buku yang kita buat bisa dijual
kepada siswa yang ada di sekolah
kita dan sekolah lain atau sekolah
teman kita.
Menurut Ibu Betti bukunya
tersebar di seluruh Indonesia
berkat pertemanan. Kita bisa
keliling Indonesia karena buku.
Beliau mulai memasarkan buku
sendiri dari tahun 1998 kita bisa
melatih guru dengan buku kita,
istilah sekarang yakni beda buku.
4. Pada saat menulis maunya
ruangan disekitarnya tertata rapi
sehingga moodnya dapat. Kadang
kalau sudah menulis tidak mau
berhenti. Menulis perlu
lingkungan,perlu tempat dan
harus dipersiapkan dengan baik.
Kita harus yakin bahwa dengan
menulis kita dapat kepuasan lahir
dan batin. Kita juga senang buku
kita dipakai diberbagai tempat.
5. Bedah buku merupakan cara
efektif untuk jualan. Orang akan
tertarik karena kita kenalkan
langsung bukunya. Kita sebagai
penulis sudah tahu dihalaman
berapa tulisan kita yang paling
menarik sehingga orang bisa
membelinya.
Bersama Om Jay
Pertemuan 23
Selasa, 10 Maret 2020
Narasumber : Ibu Betti Risnalenni
Moderator : Bapak Wijaya
Kusumah
Ibu Betti sebagai penulis buku membagikan pengalamannya. Beliau menulis buku karena ingin buku itu terjangkau oleh banyak anak. Beliau membuat buku karena Beliau mengajar menggunakan buku itu. Buku pertama yang ditulis yakni buku artimatika. Buku ini dibuat dari buku A,B,dan C untuk TK. Sedangkan untuk SD dimulai buku 1,2,3 sampai dengan 27. Jadi ada tiga tingkatan buku. Ukuran bukunya sedang, tidak tebal juga tidak tipis. Jadi harganya bisa bersahabat.
Untuk menjual buku ini, Beliau membuat pelatihan bagi guru. Pelatihannya bisa gratis bisa juga berbayar tergantung kebutuhan tapi bukunya tetap berbayar. Apabila gurunya sudah dilatih dan bisa maka si guru pun akan membimbing muridnya dengan menggunakan buku yang sama. Otomatis muridnya juga membeli buku tersebut. Anak-anak mengisi buku tersebut sama seperti LKS, dan tentu buku itu tidak terpakai dua kali karena sudah diisi atau dicoret-coret.
Dari hasil diskusi dapat disimpulkan:
1. Beliau menyusun atau membuat
buku aritmatika,jarimatika,
dan aritmatika terapan.
2. Membuat buku,memasarkan
buku tidak sulit,sebelum
membuat buku Beliau sendiri
sudah melihat pasarnya.
3. Karya guru dalam bentuk modul
atau sejenis LKPD seperti LKS
boleh dijual atau dipasarkan,
karena menurut penerbit buku
itulah yang mereka cari. Jadi
membuat buku yang diperlukan
oleh siswa.
Buku yang kita buat bisa dijual
kepada siswa yang ada di sekolah
kita dan sekolah lain atau sekolah
teman kita.
Menurut Ibu Betti bukunya
tersebar di seluruh Indonesia
berkat pertemanan. Kita bisa
keliling Indonesia karena buku.
Beliau mulai memasarkan buku
sendiri dari tahun 1998 kita bisa
melatih guru dengan buku kita,
istilah sekarang yakni beda buku.
4. Pada saat menulis maunya
ruangan disekitarnya tertata rapi
sehingga moodnya dapat. Kadang
kalau sudah menulis tidak mau
berhenti. Menulis perlu
lingkungan,perlu tempat dan
harus dipersiapkan dengan baik.
Kita harus yakin bahwa dengan
menulis kita dapat kepuasan lahir
dan batin. Kita juga senang buku
kita dipakai diberbagai tempat.
5. Bedah buku merupakan cara
efektif untuk jualan. Orang akan
tertarik karena kita kenalkan
langsung bukunya. Kita sebagai
penulis sudah tahu dihalaman
berapa tulisan kita yang paling
menarik sehingga orang bisa
membelinya.
Komentar
Posting Komentar