Menulis cepat dan tepat di media luring dan daring

Menulis cepat dan tepat di media luring dan daring
Pertemuan 24
Narasumber: Bapak Catur Nurroch                                     Oktavian
Moderator    : Bapak Bambang Ayah
                          Salwa
Oleh                : Bergita Kapa

Pertemuan yang menggembirakan bagi saya diawali dengan acara perkenalan. Narasumber memperkenalkan diri dialah bapak Catur Nurrochman Oktavian ketua Departemen Litbang PB PGRI. Passion beliau dalam menulis dimulai sejak tahun 1999. Pertama menerbitkan karya dalam bentuk buku di tahun 2003. Sampai sekarang Beliau terus menulis.

Menulis sangat bermanfaat bagi siapa saja. Menulis perlu pemahaman dari menulis yang biasa atau menulis sederhana sampai pada menulis ilmiah.

Berkaitan dengan menulis cepat dan tepat di media luring dan daring yang perlu dikalahkan adalah musuh utama dalam menulis itu sendiri. Musuh utama yakni rasa takut dan malas. Kedua musuh tersebut harus dikalahkan oleh pribadi kita sendiri sebagai penulis teristimewah penulis pemula.
Mengapa ada perasaan takut dan malas? Alasannya takut tulisannya jelek, takut dicela, takut tulisannya sudah basi, takut tulisan tidak dibaca oleh orang lain, dan takut yang lain. Beberapa perasaan takut yang selalu menghantui kita dalam memulai sebuah tulisan. Ya sebagai manusia tentu mengalami hal tersebut. Itu wajar karena manusia tidak sempurna.

Seorang penulis yang baik biasanya adalah pengamat dan pencatat yang baik. Karena terbiasa mencatat apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan, kemudian dituangkan menjadi sebuah tulisan, maka seorang penulis akan menulis meski tidak membawa alat perekam, alat tulis, maupun laptop.

Mencatat di benaknya dapat dilakukan di mana saja, misalnya di Kantin, di Kantor, di Kafe, bahkan ketika di atas motor yang sedang dikendarainya atau dibalik kendali mobil yang sedang disetirnya.
Setiap penulis yang tentu tidak membutuhkan "Mood." Tidak ada alasan tidak menulis, karena tidak ada mood. Mood harus disingkirkan dari benak kita jika menghambat kerja otak dalam menulis.

Bayangkan jika kita bekerja menghasilkan tulisan seperti wartawan, kolumnis, dan redaktur majalah. Apabila bekerja mengandalkan mood, tentu karir kita akan tamat seketika.

Isaac Asimov seorang penulis fiksi ilmiah yang memiliki reputasi bagus, mengakui bahwa cara ia menulis adalah "simpel dan apa adanya."

Menulislah dengan simpel dan apa adanya. Menulis hal yang aktual dan sesuai dengan gaya selingkung media yang akan dituju menjadi kunci sebuah tulisan diterbitkan. Seperti yang dikatakan oleh Isaac Asimov, seorang penulis yang baik, maka ia dapat menulis dengan cepat.

Perlu diingat bahwa setiap orang yang mampu mengerjakan sesuatu dengan baik, maka ia dapat melakukan lebih cepat dibandingkan orang yang tidak bekerja secara baik. Menulis adalah sebuah kecakapan atau keterampilan. Bila kita menguasai secara detail pengerjaan tulis menulis maka kecakapan itu akan berbanding lurus dengan kecepatan pengerjaan.

Menulislah dengan simpel dan apa adanya mengandung maksud, jadilah dirimu sendiri ketika menulis. Cara menemukan gaya atau menjadi diri sendiri ketika menulis tentunya dengan perbanyak menulis dan membaca untuk mempelajari gaya tulisan orang lain atau copy the master.

Jangan paksakan diri menulis sesuatu yang berlebihan di luar gaya kita. Mulailah menulis dari sesuatu yang kita suka. Kalau suka traveling, tulislah kisah perjalanan kita. Tentu kita akan lebih mudah menuliskan sesuatu yang disukai. Tuturkan segala yang ada secara sederhana dengan cara kita sendiri.

Menulis itu untuk dibaca. Oleh karena itu pesan dalam tulisan harus jelas dapat dipahami oleh pembaca.
Jika menulis dengan kalimat yang tidak simpel, maka tujuan pesan kita dalam tulisan tidak tersampaikan. Bahkan hanya membuat kening pembaca berkerut.

Menulislah seperti berbicara. Ketika berbicara kepada teman, tentu tidak ada keinginan kita menggelembungkan kata atau kalimat dengan bahasa yang berlebihan. Ketika berbicara kepada orang lain tentu sedapat mungkin menggunakan bahasa yang mudah dipahami.

Bagi penulis pemula mengapa anda masih ragu menghasilkan draf tulisan yang pertama? Biarkan tulisan yang dihasilkan jelek, karena anda masih punya banyak waktu untuk memperbaiki draf tersebut.
Jika ingin tulisan dimuat di media maka perlu diketahui informasi tentang gaya selingkungnya. Setiap media memiliki gaya selingkung masing-masing sesuai kebijakan redaksinya. Misalnya kita perlu mengetahui berapa jumlah kata dalam artikel yang bisa dimuat di media itu, dan aturan penulisannya. Atau rubrik apa saja yang tersedia di media tersebut. Tidak usah kuatir tulisan kita ditolak dan dianggap jelek. Perbaiki lagi kekurangannya, dan terus kirim lagi. Banyak faktor mengapa tulisan tidak diterima redaksi. Mungkin tulisan tidak aktual? Atau space dalam edisi penerbitan sudah penuh.

Mengapa masih ada keraguan menghasilkan draf tulisan? Biarkan tulisan yang dihasilkan jelek, karena kita masih punya banyak waktu untuk memperbaki draf tersebut. Draf tulisan yang jelek masih dapat diperbaki daripada tidak ada draf sama sekali.

Agar tulisan kita baik dan bagus hindari menulis dengan kalimat yang panjang dan berulang-ulang maknanya. Tulisan kita menjadi penting maka pesan dan informasi yang dibutuhkan pembaca bisa tersampaikan dengan baik dan jelas.

Berkaitan dengan gaya selingkung maksudnya gaya batasan sesuai jati diri, penciri media itu, sesuai dengan kebijakan redaksi masing-masing. Misalnya ada media yang membatasi bahwa tulisan yang akan dimuat di medianya minimal 600 kata, hurufnya times new roman, spasi 1.15.

Hilangkan rasa takut dengan cara menulis. Menulis saja terus menerus. Kalahkan rasa takut bahwa tulisan pertama kita jelek. Lebih baik menghasilkan tulisan yang buruk karena masih dapat diperbaiki daripada tidak menghasilkan sebuah tulisan.

Untuk mengelola konsentrasi yang efektif dalam menulis, lakukan pekerjaan yang kita sukai atau yang kita cintai. Maka menulis dari sesuatu hal kecil yang kita sukai. Fokus pada sesuatu yang kita senangi akan menambah motivasi kita lebih baik. Passion.

Menulislah seperti kita berbicara menulislah dengan kalimat yang yang tidak panjang-panjang atau berlebihan.

Penulis yang baik biasanya adalah pengamat yang baik. Bagi yang suka mendengar atau kecerdasan audionya lebih maka ketika mendengar sesuatu maka siapkan catatan, catat poin penting yang dapat dikembangkan lebih lanjut. Atau pembicaraan direkam kemudian barulah dituliskan. Banyak jalan menuju Roma banyak cara untuk menghasilkan karya.
Syarat untuk kita menulis di rubrik opini koran misalnya untuk tulisan Jawa pos mengharuskan tulisan opini minimal 600 kata sedangkan majalah suara guru untuk tulisan opni minimal 700 kata jadi berbeda-beda.


Kesimpulan
1. Kalahkan rasa takut dan malas untuk menulis.
2. Menulislah dengan simpel dan apa adanya.
3. Menulislah dari hal kecil yang kita sukai atau yang kita cintai.
4. Hindari menulis dengan kalimat yang panjang-panjang dan berulang-ulang maknanya.

Terimakasih Bapak Catur Norrochman  Oktavian yang telah membagikan ilmunya kepada saya.
Semoga bermanfaat.




                           

Komentar

  1. yuk kita menulis dengan cepat dan tepat sesuai pengalaman pak catur

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merajut tulisan di blog dan internet menjadi buku yang menarik

Dengan Menulis Aku Berpetualang